PEMANFAATAN KARBON AKTIF KULIT PISANG KEPOK (MUSA PARADISIACA) SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA CONGO RED DALAM LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL
DOI:
https://doi.org/10.37412/jrl.v26i1.517Abstract
Tanaman pisang cocok tumbuh di Indonesia yang beriklim tropis, sehingga hampir dijumpai di seluruh wilayah di Indonesia. Mayoritas masyarakat Indonesia hanya memanfaatkan buahnya saja, sedangkan kulit pisang menjadi limbah. Kulit pisang mengandung sejumlah unsur, diantaranya ialah asam galakturonat merupakan gugus fungsi gula karboksil yang diduga mampu mengadsorpsi zat warna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persen teradsorpsinya zat warna Congo Red, dan ekonomi karbon aktif kulit pisang kepok.
Pembuatan karbon aktif kulit pisang kepok menggunakan aktivator H2SO4 yang direndam selama 1,5 jam. Zat warna Congo Red berasal dari limbah simulasi dengan konsentrasi 25 ppm. Variabel bebas berupa massa karbon aktif (0,04 ; 0,06 ; 0,08 , dan 0,10 g) dan waktu kontak (30, 60, 90, dan 120 menit). Variabel terikatnya yaitu persen teradsorpsi karbon aktif kulit pisang kepok, dan analisis ekonominya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen teradsorpsi karbon aktif kulit pisang kepok tertinggi terjadi pada massa 0,1 g dengan waktu kontak 120 menit, dengan nilai 99.70%. Pada kondisi ini, analisis ekonomi menunjukkan biaya treatment sebesar Rp 1.716.000 sedangkan nilai R/C ratio yaitu pendapatan karbon aktif kulit pisang kepok untuk produksi setiap hari sejumlah Rp 564.600,00 dengan nilai R/C ratio 1,23 sehingga kriteria R/C ratio >1, maka karbon aktif tersebut efisien dan menguntungkan apabila diusahakan.
Downloads
Published
Issue
Section
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.