TEKNOLOGI TEPAT GUNA PEMBUATAN BIOPORI DALAM PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK

Authors

  • Basuki Institut Teknologi Yogyakarta
  • Warsiyah Institut Teknologi Yogyakarta
  • Rita Dewi Tristianti Institut Teknologi Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.37412/jrl.v26i1.520

Abstract

Permasalahan lain yang sering terjadi di kawasan permukiman adalah berkurangnya daya resap tanah akibat alih fungsi lahan dan meningkatnya permukaan kedap air. Kondisi ini menyebabkan air hujan tidak dapat meresap dengan optimal sehingga menimbulkan genangan bahkan banjir lokal. Berkurangnya infiltrasi air juga berdampak pada menurunnya cadangan air tanah yang sangat dibutuhkan untuk keberlanjutan lingkungan dan kehidupan manusia. Lubang biopori merupakan salah satu teknologi tepat guna yang mampu menjawab permasalahan sampah organik dan resapan air secara bersamaan. Biopori memanfaatkan aktivitas mikroorganisme tanah untuk menguraikan sampah organik sehingga terbentuk pori-pori alami yang meningkatkan infiltrasi air. Teknologi ini relatif sederhana, murah, dan dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat di lingkungan rumah tangga khususnya masyarakat di dusun Gondanglutung Donoharjo Ngaglik Sleman.

Metode pembuatan biopori menggunakan bor tanah atau cangkul, linggis dan lain lain untuk membuat lubang vertikal dengan diameter sekitar 60 - 85 cm dan kedalaman antara 75–100 cm (atau lebih, tergantung kondisi tanah) untuk memasukkan drum plastik. Pastikan lubang dibuat lurus menembus tanah. Kemudian dimasukkan drum plastik yang telah dilubangi dan dimasukkan ke dalam lubang tanah. Drum plastik  ini berfungsi untuk menjaga agar tanah tidak masuk di dalam lubang dan tanah tidak masuk kedalam drum biopori dan memudahkan proses pengisian sampah organik ke dalam biopori secara berkalaSehingga sampah teruraikan oleh mikroorganisme menjadi kompos secara alami. Bagian atas biopori ditutup untuk mencegah masuknya sampah besar dan menghindari tempat berkembangnya nyamuk. Jika isi biopori sudah terurai dan volumenya berkurang, tambahkan kembali sampah organik. Kompos yang terbentuk biasanya dapat diambil setelah beberapa bulan dan digunakan sebagai pupuk alami di kebun atau tanaman pekarangan.

Hasil penerapan biopori juga menunjukkan adanya pengurangan jumlah sampah organik yang dibuang ke tempat penampungan sampah. Dengan pengelolaan langsung di sumbernya, sampah organik tidak lagi menjadi beban utama dalam sistem pengangkutan dan pembuangan akhir. Hal ini membuktikan bahwa biopori efektif sebagai salah satu metode pengolahan sampah berbasis rumah tangga yang sederhana dan ramah lingkungan.

Downloads

Published

2026-04-06